Ged a Widget

Jumat, 10 Mei 2013

Biografi KH. M. Hasyim Asy’ari

Kiai hasyim dilahirkan pada hari selasa kliwon, 24 Dzul Qa’dah 1287 H bertepatan dengan 14 februari 1871 M di desa nggedang, jombang. Dari garis ibu, halimah, kiai hasyim masih terhitung keturunan ke-8 dari jaka tingkir alias sultan pajang. Jaka Tingkir yang tak lain putra raja Brawijaya VI alias Lembu Peteng adalah sosok yang berhasil mengislamkan Pasuruan dan sekitarnya. Walaupun demikian, kiai hasyim tidak pernah merasakan serba-serbi kerajaan. Ia tumbuh dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga kiai. Ayahnya, kiai Asy,ari adlahn pengasuh Pesantren Keras yang berada disebelah selatan jombang. Kakekanya, kiai Utsman Asy’ari adalah pengasuh pesantren Nggedang, yang santrinya bersal dari seluruh jawa, pada akhir abad 19. Sedangkan buyutnya (ayah dari kakeknya ), kiai Sihah, pendiri pesantren Tambakberas di Jombang. Sejak kecil, hingga berusia 14 tahun, putra ke-3 dari 11 bersaudara ini mendapat pendidikan langsung dari ayah dan kakeknya (kiai Asy’ari & kiai Ustman). Hasratnya yang besar untuk menuntut ilmu mendorongnya belajar dengan giat dan rajin. Al-hasil, ketika berusia 13 tahun kiai hasyim diberi kesempatan oleh ayahnya untuk membantu mengajar di pesantren karena kiai hasyim sudah terlihat mumpuni. Keberhasilannya dalam menyerap ilmu-ilmu yang telah diajarkan oleh ayah dan kakeknya tidak membuat kiai hasyim puas diri dalam menuntut ilmu. Dan kiai hasyim pun berencana melanjutkan studinya di pesantren-pesantren lain dari luar daerahnya. Ketika berusia 15 tahun, kiai hasyim meninggalkan kedua orang tuanya dan memulai pengembaraanya dalam menuntu ilmu. Beliau berpindah-pindah dari pesantren yang satu ke pesantren yang lain. Mula-mula kiai hasyim nyantri di pesantren Wonokoyo Probolinggo. Kemudian yantri ke Pesantren Langitan, Tuban. Dan setelahnya nyantri ke Pesantren Trenggilis, Semarang. Terus nyantri lagi di Demangan, Bangkalan di Pulau Garam (Madura) di bawah asuhan kiai cholil. Dan nyantri lagi demi memuaskan jiwanya yang haus akan ilmu pengetahuan di Pesantren Siwalan, Panji (sidoarjo) yang di asuh kiai Ya’qub inilah, kiai hasyim semacam benar-benar menemukan sumber islam yang diinginkan. Kiai Ya’qub dikenal sebagian ulama’ berpandangan luas cukup alim dalam beragama, cukup lama kiai hasyim menimba ilmu di Pesantren Siwalan, dalam kurun waktu sekitar 5 tahun kiai hasyim menimba ilmu di Pesantren Siwalan. Dengan kecerdasan dan kealiman kiai hasyim maka kiai ya’qup kesengsem berat kapadanya. Akhirnya kiai hasyim di ambilnya sebagai menantu, saat usianya masih 21 tahun, kiai hasyim menikah dengan nyai Chadidjah, putrid kiai ya’qub. Tidak lama setelah menikah kiai hasyim bersama istrinya berangkat ke makkah guna menunaikan ibadah haji. 7 bulan disana, lalu kembali ketanah air, sesudah istri dan anaknya meninggal. Tahun 1893 M, kiai hasyim kembali menunaikan ibadah haji dan menimba ilmu di makkah. Beliau menetap di sana selama 7 tahun dan bergu kepada ulama’ulama besar seperti Syekh Ahmad Khatib Minangkabau dan Syekh Mahfuzh at-Termasi di bidang Hadis. Pada tahun 1899 M kiai hasyim kembali ketanah air Indonesia. Dalam perjalanan pulang, kiai hasyim singgah di johor, Malaysia dan mengajar disana selama beberapa kurun waktu. Sesampai di Indonesia kiai hasyim mengajar di pesantren milik kakeknya, kiai ustman di nggedang, jombang. Tidak lama kemudian kiai hasyim mendirikan pesantren di Tebuireng pada tanggal 12 Rabiul Awal 1317 H (1899 M). tahun.

Definisi dan Indikasi Hukum Wajib

a). 1 Hukum Ijab dan Wajib
Pembahasan hukum ijab dan wajib ini meliputi empat term, yaitu definisi, indikasi, dan klasifikasi serta konsekwensi hukum tersebut.
a). 1. a Definisi Wajib
Secara bahasa, kata wajib bermakna as-saqith (yang gugur), al-lazim (yang tetap). Sedangkan menurut istilah, wajib adalah:

ما طلبَ الشَّارعُ فعله على وجهِ اللُّزومِ، ورتَّب على امتثالهِ المدحَ والثَّوابَ،

وعلى تركهِ مع القُدْرةِ الذَّم والعقابِ

“Sesuatu yang diperintahkan oleh syarak untuk dikerjakan dengan adanya tekanan, dan diruntutkan pujian serta pahala dengan mengerjakannya atau celaan serta siksaan dengan meninggalkannya”.[1]
Mudahnya, wajib menurut ahli fikih adalah:

ما يثاب على فعله ويعاقب على تركه

 او ما أمر الشارع به أمراً جازماً، أو ما طلب الشارع من المكلف فعله طلباً جازماً

“Sesuatu yang diberi pahala bila dikerjakan dan disiksa apabila ditinggalkan atau sesuatu yang diperintahkan syarak dengan perintah yang jazim atau dituntut dengan jazim”.[2]
Misalnya adalah salat lima waktu itu hukumnya wajib, mendapat pahala ketika dikerjakan dan disiksa apabila ditinggalkan, begitu juga dengan hukum zakat, puasa, dan hajji bagi yang telah mampu, serta kewajiban-kewajiban yang lain. Sedangkan hukum ijab menurut ahli usul fikih adalah :

طلب الفعل طلباً مشعراً بالذم على الترك

“Menuntut (untuk mengerjakan) sesuatu dengan tuntutan yang memberikan petunjuk adanya celaan ketika ditinggal”.[3]
Misalnya adalah firman Allah yang menyebutkan:

يا ايها الذين آمنوا أنفقوا من طيبات ما كسبتم ومما أخرجنا لكم من الارض (البقرة : 287)

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu”.[4]
a). 1. b Indikasi Hukum Wajib
Indikasi hukum wajib bisa dipahami dari bentuk-bentuk kata dan redaksi (sighot) yang digunakan dalam hukum tersebut, di antaranya adalah:
1. Setiap fi’il Amar (yang mengikuti wazan افعـل dalam Tsulasi dan wazan-wazan lain yang telah ditentukan). Misalnya:  أقـيـمـوا الصـلاة  (الانعام : 72) poinnya pada kata ‘Aqimu’. Redaksi amar dari wazan tersebut secara sepintas dan mutlak berindikasi wajib, dan jika ada indikasi tertentu yang mengarahkan pada selain hukum wajib, misalnya sunah atau mubah, maka tidak lagi menunjukkan hukum wajib.
2. Fi’il Mudhori’ yang kemasukan Lam Amar (Lam yang berguna menun- jukkan perintah). Misalnya:   فـَـلْيَـتـَّقُوا اللهَ وَلْيَقـُولُوا قَوْلا سَدِيدًا (النساء : 9)  poinnya pada kata ‘falyattaqu’ dan ‘walyqulu’.
3. Isim Fi’il Amar (kalimah isim yang bermakna fi’il tetapi tidak bisa mene- rima alamatnya fi’il). Misalnya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ  (المائدة : 105)

poinnya pada kata ‘alaikum’ yang disebut isim fiil dan bermakna ‘ilzamu/tetaplah’.
4. Masdar yang mengganti (kedudukan) Fi’il Amar, artinya mempunyai arti perintah.[5] Misalnya:

فَإِذَا لَقـِيـتُمُ الَّذِينَ كـَفـَرُوا فـَضَرْبَ الـرِّقَابِ  (محمد : 4)

poinnya pada kata ‘fadhorbarriqob’ yang bermakna fiil ‘idhribu’.
5. Formula (sighot) dari kata ‘amara’ dan yang ketasrif dari lafadz tersebut.
Misalnya:

ان الله يأمر بالعدل والإحسان (النحل : 90)

poinnya pada kata ‘ya’muru’.
6. Formula dari kata ‘kataba’ dan yang ketasrif dari lafadz tersebut.
Misalnya:

كـتب عليـكم الـقـتـال وهو كـره لـكم (البقرة : 216)

poinnya pada ‘kutiba’.
7. Formula dari kata ‘farodho’ dan yang ketasrif dari lafadz tersebut.
Misalnya:

سـورة انـزلـناها وفـرضناها  (النور : 1)

poinnya pada ‘farodhnaha’.
8. Formula dari kata له عليك فعل كذا (ketetapan) atas kamu mengerjakan ini untuknya’. Misalnya:

ولله على الناس حج البيت الاية (آل عمران : 97)

9. Kalam khobar (perkataan yang mempunyai realita, yang sesuai {benar} atau tidak sesuai {salah} dengan realita tersebut), yang memosisikan tujuan dalam posisi sempurna wujudnya, sebagai bentuk penguat (ta’kid). Misal:

والذين يتوفون منكم ويذرون ازواجا يتربصن بأنفسهن اربعة أشهر وعشرا (البقرة : 234)

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) selama empat bulan sepuluh hari”.[6]
9.  Ada ancaman siksa jika meninggalkan sesuatu. Contoh:

 فان لم تفعلوا فأذنوا بحرب من الله ورسوله (البقرة : 279)

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu”.
10. Peninggalnya dianggap durhaka, bermaksiat, dzolim, atau sifat-sifat buruk lainnya. Misalnya:

ومن لم يتب فأولئك هم الظالمون (الحجرات : 11)

11. Peninggalnya mempunyai konsekwensi tidak sah ibadahnya. Contoh:

لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكــتاب، لا نكاح الا بولي

“Tiada salat (yang sah) bagi yang tidak membaca Fatihah, tidak ada nikah (yang sah) kecuali dengan seorang wali nikah”.
a). 1. c Klasifikasi Hukum Wajib
Secara mendasar, hukum wajib dapat diklasifikasikan dalam tiga aspek, yaitu aspek dzati (substansi hukum wajib), aspek waktu pelaksanaan, dan pelaku (mukallaf). Dari aspek substansi, wajib terbagi dalam dua poin, yaitu wajib mu’ayyan dan wajib mubham. Wajib mu’ayyan berarti tuntutan sesuatu yang posisinya tidak bisa digantikan oleh sesuatu lainnya, misalnya: perintah tentang salat, zakat, puasa dan kewajiban-kewajiban yang tidak ada pilihan pengganti lainnya. Sedangkan wajib mubham artinya tuntutan beberapa sesuatu yang sifatnya boleh memilih di antara hal tersebut, dan harus dikerjakan salah satunya serta tidak boleh ditinggalkan semuanya. Misalnya adalah: kewajiban memerdakan budak atau memberi pakaian sepuluh fakir-miskin atau memberi makan mereka bagi penerjang sumpah. [7]
Dari aspek waktu pelaksanaan, wajib terbagi menjadi dua poin, yaitu wajib mudhoyyaq (terdesak) dan wajib muwassa’ (diperpanjang). Wajib mudhoyyaq berarti waktu pelaksanaannya tidak menerima kewajiban lain yang sifatnya sejenis, misalnya kewajiban puasa di bulan Ramadhan, tidak boleh menjalankan ibadah puasa selain fardu tersebut, baik puasa sunah maupun puasa fardhu lainnya. Sedangkan wajib muwassa’ artinya waktu pelaksanaannya tersebut masih menerima kewajiban lain yang sejenis, misalnya dalam waktu salat Dzuhur, boleh menjalankan salat sunah, salat fardhu qodho, maupun fardhu yang i’adah (diulang) karena ada jama’ah.[8]
Namun, kadang mudhoyyaq dan muwassa’ itu dipahami lain. Artinya, mudhoyyaq dipahami untuk kewajiban yang waktunya hampir tidak cukup (istilahnya sampai waktu tahrim/haram mengakhirkan ibadah sampai waktu ini), sedangkan muwassa’ waktunya masih panjang.[9]
Adapun dari aspek pelaku, wajib terbagi menjadi dua pula, yaitu wajib ‘aini (secara personil) dan wajib kafai (secara plural). Maksudnya wajib ‘aini adalah tuntutan itu diarahkan kepada perindividu orang mukallaf, sehingga tidak boleh untuk diwakilkan kepada orang lain. Misalnya: salat lima waktu dan puasa wajib. Adapun wajib kafai adalah tuntutan yang berlandaskan terhadap wujudnya pekerjaan, kalau obyek fardhu ‘ain adalah individu orang mukallaf, maka obyek fardhu kifayah adalah pekerjaan itu terwujud dan terlaksana. Misalnya: menolong orang yang tenggelam, memandikan mayit, atau mensalatinya.[10]
Untuk lebih mudahnya perhatikan bagan berikut:


[1] Abdullah bin Yusuf al-Jadik. t.t. Taisiru Ilmi Usul al-Fikih. t.tp.: t.pn. hlm: 09.
[2] Ada perbedaan di antara kedua definisi di atas, definisi yang menggunakan redaksi tsawab (pahala) dan Iqob (siksa) disebut dengan ta’rif rosmi (definisi rasm), karena yang digunakan adalah pahala dan siksa yang menjadi lazimiah (konsekuensi yang sebagai khossoh) hukum tersebut yang sifatnya masih khofi (samar) dan belum diketahui keberadaanya. Sedangkan definisi yang menggunakan redaksi jazim (penekanan yang jelas), ini menggunakan ta’rif haddi (yang menggunakan fasl), hal ini juga berlaku untuk definisi hulum yang lain. Muhamad al-Hasan as-Siqinthi. t.t. Syarah Waroqot Fi Usul al-Fikih. t.tp.: t.pn. Maktabah: Syamilah isdar 3,5. hlm. 15
[3]  Iyyad bin Nami as-Silmi. Usul Fikih al-Ladzi La Yasau li al-Fakihi Jahluhu. Ibid, hlm. 21.
[4]  Sebagai dalil wajibnya mengeluarkan zakatnya zuru’ (tanaman pepadian). Sayyid Sabiq. t.t. Fikih Sunnah. t.tp.: t.pn. Maktabah: Syamilah isdar 3,5. Vol. 01. hlm. 374.
[5]  Abdulah bin Yusuf al-Jadik. t.t. Taisiru Usul al-Fikih. t.tp.: t.pn. Maktabah: Syamilah isdar 3,5. Vol. 01. hlm. 09.
[6] Ayat di atas menggunakan redaksi khobar, namun tujuan utamanya adalah menyuruh perempuan tersebut untuk melaksanakan ‘iddah. Faktor penyampaian hukum dengan metode ini adalah menguatkan perintah tersebut, seakan-akan sudah terjadi dan tidak bisa dielakkan lagi. Al-Jadik. Ibid. hlm. 11.
[7]  Hal ini menolak anggapan muktazilah yang tidak setuju dengan pilihan tersebut dengan alasan menafikan konsekwensi wajib yang mengandung tuntutan bukan pilihan. Karena dalam wajib mubham ini masih ada tuntutan, sekalipun bersifat tidak menentu satu poin saja. Muhamad Amin bin al-Mukhtar as-Siqinthi. t.t. Madzkaroh Fi Usul al-Fikih. t.tp.: t.pn. Maktabah: Syamilah isdar 3,5. hlm. 09.
[8]  Amin bin al-Mukhtar. Ibid.
[9] Namun sebenarnya ini adalah cabang dari kaidah penentuan muwassa’ dan mudhoyyaq tersebut. Sebab, jika kewajiban itu menerima ibadah sejenisnya, maka sudah barang tentu waktunya itu diperpanjang. Dan apabila sudah mepet waktunya, berarti tidak menerima ibadah sejenis lainnya. Dan ini menjadi kewajiban mudhoyyaq. Talkih alAfham al-Aliyyah Bi Syarh al-Qowaid. t.tp.: t.pn. Juz. 02. hlm. 39.
[10]  Muhamad Amin as-Siqinthi. Loc. Cit. Hlm. 10.

Dikutip dari :  http://tanbihun.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India